DARI SOSIALIS UNTUK KOMUNIS
(DIKELUARKAN OLEH P.S.I. DJAWA TIMUR)/1957
KATA PENGANTAR
Tulisan jang disadjikan dalam bentoek brosoer ini adalah turunan surat terbuka dari Pemimpin PARTAI SOSIALIS PRAJA (India) jang terkenal, jaitu kawan JAYAPRAKASH NARAJAN, kepada Kaum KOMUNIS India. Surat tersebut telah dimuat di dalam Mimbar Politik SIKAP berturut-turut nomor 48 dan 49 tahun IX masing-masing pada tanggal 17 dan 24 Desember 1956.
Djika diperhatikan benar-benar keseluruhan isinja njatalah bahwa apa jang dikemukakan terhadap komunis India itu, djuga berlaku terhadap komunis Indonesia. Tidak itu sadja ..strekking” (maksud) daripada isi surat kawan Jayaprakash Narajan itu dapat dianggap ditudjukan terhadap seluruh moraliteit komunisme-totaliter, terlebih-lebih terhadap komunis-komunis boneka dari negara-negara diluar Sovjet Rusia, jang menganggap Sovjet Rusia sebagai pusat pimpinan internasionalnja, jang menganggap Sovjet Rusia sebagai sorga sosialis, jang mesti mendjadi teladan moral komunis dunia.
Sudah mendjadi pengetahuan umum bahwa memang ada kesatuan tjara dalam praktek-praktek politik komunisme dimanapun djuga diluar Sovjet Rusia jang tak mentjari dan menemukan djalan sendiri atas kekuatan dan perkembangannja, melainkan senantiasa setia mengikuti djalan jang ditundjukkan oleh komunis Rusia sebagai tjara jang universeel dan absoluut (mutlak).
Dan dengan sendirinja pula mereka sebetulnja tidak lagi objektif dan realistis, hakekat perdjuangannja adalah non-marxist, walaupun mereka jang paling banyak mengemukakan doktrin-doktrin marxisme, tapi jang dibekukan dengan adjaran-adjaran Lenin dan Stalin.
Dengan semangat dan kedjiwaan perdjuangan jang dogmatis dipusatkan leadership-nja (Pimpinannja) kepada komunis Rusia, mereka sudah mengikatkan diri kepada perdjoangan memilih blok Sovjet Rusia melawan blok Amerika Serikat, dan karenanja mustahil mereka akan mentjapai PERDAMAIAN DUNIA jang SEBENAR-BENARNJA bagi rakjat dan seluruh manusia, walaupun pula mereka jang paling banjak bersembojan PERDAMAIAN DUNIA.
Ukuran kebenarannja hanja Sovjet Rusia dengan komunismenja dan kaum komunis satelit membutakan diri terhadap kenjataan-kenjataan dinegeri-negeri dimana mereka berada.
Tjara lebih dipentingkan daripada tudjuan, sampai kebohongan dan fitnahan tiada segan-segannja dipakai dalam mentjapai tudjuannja jang telah diperketjilnja scope-nya (lingkarannja), ialah kekuasaan. Hendak kemanakah mereka dengan kekuasaannja, seperti jang telah tertjapai di Sovjet Rusia?
Pertanjaan-pertanjaan dan soal-soal jang diadjukan oleh kawan Jayaprakash Narajan ini, tjukup memberikan bahan-bahan pembuka akal dan nilai-nilai kemanusiaan jang sewadjarnja, teristimewa bagi kaum komunis sendiri untuk menelaah lebih dalam dan djudjur tentang apa sebetulnja komunisme sekarang jang mereka bela dan anuti itu!
Pun djuga bagi rakjat Indonesia kesemuanja jang diadjukan itu banjak mengandung isjarat untuk menggugat praktek-praktek perdjuangan kaum komunis Indonesia dan golongan-golongan jang telah terpedaja olehnja untuk kepentingan-kepentingan dan perhitungan-perhitungan jang opportunistis. Istimewa jang dilantjarkan oleh kaum komunis PKI terhadap kaum Sosialis Kerakjatan umumnja dan PSI chususnja, seperti ditundjukkan oleh kenjataan-kenjataan, terdapat pula gambarannja dalam kata-kata kawan Jayaprakash Narajan tentang tjara-tjara kaum komunis India berdjoang di negerinja. Di Indonesia kaum Sosialis Kerakjatan difitnah oleh kaum komunis PKI sebagai soska (sosialis kanan), sebagai komprador, sebagai agen Inggeris, sebagai pembantu modal asing.
Semua fitnah-agitasi tersebut dikemukakan oleh mereka seenaknja sadja dan semau-maunja, tanpa tanggung-djawab terhadap rakjat menurut nilai-nilai kebenaran dan kedjudjurannja. Persetan dengan tanggung-djawab terhadap rakjat, jang lebih penting bagi mereka ialah bahwa dengan fitnah-agitasi demikian sudah mereka puas mengabdikan tugasnja untuk pimpinan jang dipertuannja.
Achir-achir ini pula banjak dilantjarkan kepada rakjat tentang PSI sebagai biangkeladi dari matjam matjam peristiwa sebagai reaksi terhadap mis-management dari pemerintah jang mendjalankan kebidjaksanaannja jang dibela oleh komunis-PKI.
PSI dikatakan sebagai biang keladinja 17 October Affairs, biangkeladinja peristiwa 13 Agustus, biangkeladinja Peristiwa Sumatera Tengah/Utara, entah nanti akan disusul sebagai biang keladi peristiwa-peristiwa apalagi. Satupun dari fitnahan tersebut tidak ada jang benar, tidak ada jang dapat dibuktikan oleh komunis PKI atau oleh siapapun djuga.
Begitu kotor dan bohongnja kaum komunis PKI memfitnah dan membohong. Sampai-sampai golongan-golongan politik lainnja ada jang terpedaya oleh agitasi dan fitnah kebohongan PKI tersebut, sampai-sampai pula dalam pertarungan politik sudah nampak mendjadi kebiasaan untuk djuga memakai kebohongan dan fitnahan sebagai tjara jang dianggap “geeigend” dalam perdjoangan.
Sudah didjadikan kebiasaan untuk meninggalkan ukuran-ukuran moraal dalam dunia politik kita, meninggalkan nilai-nilai kebenaran, seolah-olah tudjuan-tudjuan politik sudah kehilangan muka keindahannja untuk mengabdi kepada manusia jang selalu mentjari kebenaran, keadilan, kebebasan, kemakmuran dan kesempurnaan.
Boleh kaum Komunis-PKI-Moskow tertepuk dada dengan membanggakan kemenangannja karena kebohongan dan fitnahannja dapat menguasai djiwa massa untuk suatu waktu tertentu ini, karena kebohongan dan fitnahannja dalam perdjoangannja djuga ditiru oleh dan mempengaruhi sebagian dari golongan-golongan politik di tanah air kita untuk sementara waktu ini, tapi kita kaum Sosialis Kerakjatan jakin, bahwa pada suatu waktu kebohongan dan fitnahan itu tidak lagi akan menguasai rakjat dan keadaan, bahwa pada suatu waktu politik kaum komunis-PKI akan dirasa oleh rakjat sebagai penipu dan pendjahat bagi kemanusiaan, penipu dan pengchianat bagi tudjuan perdjoangan kemerdekaan jang sebenarnja, jang ditjoba untuk mengakui dan mengikuti pimpinan Sovjet-Rusia.
Boleh kaum komunis PKI dan golongan-golongan politik lainnja jang terpedaja tersebut diatas menjatakan berhasil dalam menindas PSI dan golongan Sosialis Kerakjatan dengan massa-agitasinja jang mengandung ratjun kebohongan dan fitnahan, akan tetapi tambah keras mereka meneriakkan itu, akan tambah tebal dan ulet perdjoangan sosialisme kerakjatan, karena jakin bahwa kebenaran akan mendjadi masa depan rakjat. Meneruskan tjara-tjara berpolitik jang penuh kebohongan itu dan menghilangkan daja-upaja untuk mentjapai komunisme dengan djalan sendiri (otonoom) serta hanja tahu menjerahkan diri kepada pimpinan strategi-Moskow ~dan ini sudah contrast dengan adjaran Marxisme sendiri~ berarti bahwa kaum Komunis-PKI sedang menggali lobang kuburnja sendiri!
Dan dengan penerbitan brosoer ini dimaksudkan untuk dapat mempertemukan isinja dengan kenjataan-kenjataan dan pengalaman-pengalaman tentang praktek-praktek politik kaum Komunis-PKI ditanah air kita sampai dewasa ini, untuk kemudian dapat membersihkan pimpinan politik bagi rakjat dari anasir-anasir jang tak mempunjai moraal kebenaran dan kedjudjuran serta tanggung-djawab.
Achir kata diserukan, mari kita berdjuang mengedjar KEBENARAN dan memberantas KEBOHONGAN dan FITNAHAN dalam perdjoangan politik untuk mentjapai tjita-tjita dan tudjuan-tudjuan kemanusiaan jang tinggi nilainja.
Surabaja, 12 Februari 1957
SJAMSOEL’ARIFIN.
KEPADA SAHABAT SAJA DIKALANGAN KAUM KOMUNIS
jang terkenal jaitu, sdr. Jayaprakash Narajan
Surat terbuka dari pimpinan Partai Sosialis Praja (India) kepada Kaum Komunis India
Saja memberanikan diri untuk menjampaikan beberapa kata kepada sahabat2 saja dikalangan kaum komunis. Dengan sengadja saja mempergunakan perkataan “sahabat2, karena banjak orang2 di Partai Komunis India sekarang, jang mendjadi rekan2 saja jang akrab didalam Partai Sosialis Congress.(Partai Sosialis sebelum tahun 1948,Red.)
Dari pemberitaan2 pers dunia nampak bahwa kongres jang ke-20 dari Partai Komunis Russia telah menggerakkan dimana-mana dikalangan kaum komunis suatu proses pikiran dan tindakan jang revolusioner. Saja pertjaja bahwa Partai Komunis India dalam hal ini tidak merupakan suatu keketjualian. Karena itu saja menulis perkataan2 jang bersifat persahabatan ini untuk membantu perkembangan proses ini.
Saja berharap bahwa setiap komunis menjadari arti jang sangat penting dari pidato Khrushchev dan kedjadian2 jang mengikutinja. Orang memberikan banjak tafsiran tentang alasan2 jang sebenarnja daripada pernjataan Khrushchev itu. alasan2 tidak begitu penting, bagaimanapun alasan2 jang diberikan itu, sudah barang tentu alasan itu bersifat politis. Hal jang lebih penting jalah bahwa telah diakui setjara resmi bahwa telah dilakukan kedjahatan2 jang menimbulkan bulu roma oleh suatu pimpinan jang selama satu angkatan telah didewa-dewakan dan disatu negeri jang selalu ditondjolkan sebagai contoh jang harus diikuti oleh seluruh dunia. Rakjat dimana-mana sudah sepantasnja berpaling dan bertanja kepada kaum komunis:..Hal jang djelek inikah jang kamu hendak djual kepada kami?”
Pertanjaan pertama jang harus didjawab oleh kaum komunis untuk mereka sendiri jalah: Bagaimanakah mungin bahwa kenjataan-kenjataan jang telah dikemukakan oleh Krushchev dapat disembunjikan sebegitu lama? Apakah kenjataan-kenjataan itu tidak merupakan pembitjaraan dikalangan kaum non komunis diseluruh dunia selama-lama hampir tigapuluh tahun? …Hal2 baru” jang dikemukakan oleh Krushchev itu pada njatanja tidak merupakan hal2 baru sama sekali. Tidak mungkin kaum komunis sedikitnja kalangan pimpinannja tidak mengetahui kenjataan-kenjataan itu. kenapa kalau begitu mereka berdiam diri sebegitu lama? Pertanjaan ini sampai sekarang tidak pernah didjawab dengan memuaskan.
Suatu pertanjaan jang lain timbul: apakah kaum komunis akan menjetop arah jang ditundjuk oleh Krushchev? Apakah mereka tidak berdjalan terus untuk mentjari kebenaran? Apakah kebenaran tidak membantu komunisme? Apakah komunisme dapat dibangun atas dasar kebohongan2? Apakah Krushchev telah mengemukakan segala-galanja? Apakah ia telah mengutuk semua kedjahatan-kedjahatan jang dilakukan atas nama komunisme? Apakah ia telah mengaku kedjahatan2nja sendiri? Djika pembunuhan terhadap Kirov merupakan suatu kedjahatan, bagaimana halnja pembunuhan2 jang dilakukan terhadap Zinoviev, Kamenev, Radek Bukharin dan lain2nja? Djika “musuh2 rakjat” merupakan suatu tuduhan jang kotor dan mengandung tipuan jang dipikirkan oleh Stalin untuk menghantjurkan lawan2 politiknja dan saingannja, apakah tuduhan seperti itu djuga, djika dipergunakan terhadap Beria dan “kontjo2nja” mendjadi benar dan sesuai dengan “perundang-undangan sosialis”? Apakah kaum komunis akan kembali memakai katja mata hitam jang dibikin untuk mereka di Moskow dan tidak sudi melihat sesuatu daripada jang dapat dilihat dengan katja mata itu? Apakah tumpukan2 kebohongan akan memimpin gerakan komunisme dunia kembali? Apakah kaum komunis untuk menggantikan ini tidak mau menjatakan dan mengemukakan keobjektipan (kedjudjuran) secara Marxis dan kemerdekaan revolusioner daripada djiwa manusia?
Suatu pertanjaan jang lebih penting lagi jalah: Bagaimanakah Partai Komunis Rusia dan Rakjat Rusia dapat memperbolehkan selama tigapuluh tahun dan lebih bahwa kedjahatan jang disebut oleh Krushchev dilakukan atas nama mereka? Mengemukakan “pemudjaan perseorangan” sebagai djawaban adalah menghina akal manusia jang sewadjarnja dan memperolokkan marxisme. Tidak dapat disangkal bahwa Stalin merupakan kepribadian jang paling kuat jang pernah dilahirkan di dunia, tetapi apakah dapat disangsikan bahwa ia dapat berbuat apa jang telah dilakukannja karena sistem sosial, ekonomi dan politik jang telah ditjiptakan di Rusia atas nama Marxisme dan komunisme? Memisahkan Stalin dari systeem itu dan mengutuk jang satu dengan tiada memperbintjangkan jang lain sudah pasti tidak merupakan kupasan setjara Marxis daripada suatu kenjataan sedjarah. Mengutuk Stalin dan pemudjaan perseorangan semata-mata tidak akan dapat memperbaiki dan merubah systeem itu. Dan selama systeem itu dipertahankan sebagai sorga sosialis, komunisme memukul diri sendiri.
Apakah jang telah dilakukan oleh Krushchev karenanja harus merupakan suatu kesempatan untuk menjelidiki kembali setjara sungguh-sungguh adjaran komunisme jang sekarang. Apakah jang dikendaki oleh kaum komunis? Apakah jang diperdjuangkan oleh mereka? Teori atau manusia? Systeem atau nilai2 kehidupan jang tertentu? Apakah alat jang dikendaki atau tudjuan? Apakah kekuasaan pada dirinja sendiri jang mendjadi tudjuan satu-satunja? Apakah nasionalisasi atau kollektivisasi merupakan suatu alat untuk satu tudjuan pada dirinja sendiri, suatu makhluk jang paling penting ataukah hanja suatu alat didalam usaha sosial jang dirantjangkan?
Nampaknja kaum komunis tidak dapat melihat hutan karena kaju2. Mereka nampaknja kehilangan tudjuan terachir dan nilai2 terachir. Djika pukulan jang telah diberikan oleh pidato Krushchev membebaskan kaum komunis dari pembelengguan jang mereka lakukan terhadap diri sendiri dan memaksa mereka untuk melihat nilai2 jang dilupakan, maka itu akan merupakan djasa~sekalipun tidak dimaksud demikian~jang abadi buat perdjuangan komunisme.
Apakah nilai2 jang diidam-idamkan komunisme? Apakah bukan kemerdekaan manusia, martabat manusia, persaudaraan manusia, persamaan, perdamaian? Apakah bukan kemerdekaan jang digambarkan dengan tjara jang begitu hebat sehingga pada achirnja membuka djalan untuk lenjapnja negara itu sendiri dan digantikannja “pengaturan manusia” oleh “pengaturan barang2”. Apakah gambaran persamaan tidak ditjerminkan dengan penuh dalam tjita-tjita jang luhur: dari setiap orang menurut ketjakapannja, buat setiap orang menurut keperluannja? Apakah persaudaraan tidak mentjakup seluruh kemanusiaan? “Kekerasan revolusioner”, kediktatoran proletar, “Sentralisme jang demokratis”, nasionalisasi, kollektivisasi-semuanja ini dimaksudkan sebagai alat untuk tudjuan2 jang luhur itu. Apakah jang terdjadi dengan tudjuan2 itu? Apakah itu masih nampak? Sesudah empatpuluh tahun revolusi, kemerdekaan manusia dan martabat manusia telah diindjak-indjak mendjadi abu. Negara, djauh daripada lenjap, telah merupakan naga jang maha kuasa. Persamaan merupakan mimpi jang djauh. Persaudaraan internasional telah merosot mendjadi sematjam pendjadjahan baru jang menimbulkan perlawanan jang gagah berani sekarang dari bangsa Polandia, Hongaria, seperti djuga dilakukan bangsa Yugoslavia sebelum mereka. Perdamaian mendjadi persiapan untuk siap berperang.
Saja bertanja kepada diri sendiri bagaimana pikiran2 sahabat saja di dikalangan kaum komunis India terhadap semua ini? Beberapa tahun berselang mereka telah memaki-maki semua orang termasuk penulis sendiri jang berusaha untuk membuka mata mereka supaja melihat kebenaran. Sekarang, sesudah kaum komunis sendiri jang membuka kedok itu, apakah mereka masih enggan untuk memakai mata mereka? Saja tidak menaruh perhatian terhadap anti komunisme atau anti-Russia. Kaum sosialis India memang mengetjam Stalinisme dan totalitarisme Sovjet dengan tadjam, tetapi mereka tidak pernah menentang komunisme pada pokoknja. Dimana komunisme memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia tidak merosot mendjadi tiranni (paksaan) dan masih memperhatikan sedikitnja nilai2 pokoknja, kami dengan tjepat mengulurkan tangan persahabatan. Kamilah jang pertama d negeri ini jang mengutjapkan selamat kepada Marshal Tito dan kaum komunis Yugoslavia pada waktu kaum komunis dari Praha sampai ke Peking mengutuk Tito sebagai “andjing fascis” dan Yugoslavia sebagai pengikut barisan imperialisme Barat. Saja boleh tambahkan bahwa perhatian kami terhadap Yugoslavia tidak berubah, sekalipun ada kedjadian2 dalam negeri itu pada bulan2 belakangan ini jang agak menjusahkan. Untuk kembali kepada persoalan jang saja kemukakan, persoalan jalah: “apakah kaum komunis sekarang mempunjai tjukup keberanian dan semangat revolusioner untuk berpisah dengan masa jang lalu, meninggalkan djalan2 jang salah, menolak sampah, mengekang kehausan mereka untuk berkuasa, sehingga mereka dapat menemukan kembali gambaran besar daripada komunisme jang dulu2 dan dapat mewudjudkannja mendjadi suatu kenjataan jang hidup?
Kaum komunis di negeri ini, seperti dimanapun djuga, telah membikin diri mereka mendjadi barang edjekan karena menjediakan diri mereka untuk mendjadi boneka Moskow. Tetapi sekarang telah bertiup angin sedjuk melalui pintu komunis “persamaan”, “kemerdekaan”, “kedaulatan nasional”. Ini merupakan tanda jang paling mejakinkan daripada kekuatan djiwa manusia jang tidak dapat dimatikan, jang tidak dapat diperbudak untuk selama-lamanja dan jang merupakan djaminan satu-satunja untuk kemerdekaan manusia. Persoalan jalah: apakah kaum komunis India mempunjai keberanian jang tjukup untuk menjatakan kebebasan mereka terhadap Moskow dan memilih djalan mereka sendiri menudju sosialisme? Sahabat2 saja di kalangan kaum komunis mungkin mendjawab bahwa mereka pada njatanja selalu bebas. Sangat disajangkan djika mereka berkata demikian, karena mereka tahu bahwa itu adalah bohong dan tidak seorangpun akan mempertjajai mereka. Itulah djuga jang selalu dikatakan oleh kakitangan2 Stalin di Polandia dan Hongaria, tetapi bukankah kedok mereka telah dibuka oleh kaum komunis “merdeka” dan rakjat negeri itu? Sudah tiba waktunja buat kaum komunis untuk beladjar bahwa kepalsuan tidak laku.
Manusia adalah makhluk jang kepingin tahu. Ia selalu mengadakan penjelidikan, selalu mentjari kebenaran. Didalam perdjalanan penjelidikannja ia menemukan agama, ilmu, filsafat2, kesenian dan lain sebagainja. Djika kaum komunis atau siapapun djuga,mentjoba untuk memasukkan kebohongan2 dalam djiwa manusia, mereka memang bisa berhasil untuk sesuatu waktu, akan tetapi pada suatu ketika sifat manusia jang selalu mentjari kebenaran akan menampakkan diri djuga dan kebenaran akan timbul. Karena itu, kaum komunis sebaiknja dengan terus terang mengakui bahwa, diperdajakan oleh suatu gambaran jang salah tentang internasionalisme mereka sampai sekarang selalu membuntut kepada Moskow dan mengemukakan terus terang bahwa mulai saat ini mereka untuk seterusnja akan bertindak merdeka.
Perlu dikemukakan bahwa tidak tjukup hanja untuk mengemukakan pernjataan sematjam jang diatas itu. Partai Komunis India harus mejakinkan rakjat India dengan perbuatannja jang merdeka dan setia terhadap rakjat India. Hal ini akan memakan waktu. Satu hal jang harus diperbuat oleh kaum komunis untuk menimbulkan kejakinan jalah menerangkan kepada rakjat dimana dan bagaimana mereka berbeda dengan apa jang telah dan sedang diperbuat di Russia. Sampai sekarang mereka mendjundjung Russia sebagai negeri tjita2 jang tak dapat berbuat salah. Tjita2 itu hantjur sekarang. Djika mereka berdjalan terus dengan seolah-olah berbuat bahwa tidak ada terdjadi apa2, maka tidak seorangpun jang mempunjai perasaan akan mempunjai penghargaan terhadap mereka. “Komunisme” pada itu mungkin akan memperoleh “kemadjuan” sedikit dengan membohongi sebagian rakjat untuk waktu jang tertentu, tetapi itu tidak akan pernah menudju ke pelabuhan masjarakat jang tidak berkelas-kelas dimana terdapat persamaan dan kemerdekaan.
Didalam hubungan ini kedjadian2 telah mengemukakan suatu pertanjaan jang mendesak kepada kaum komunis. Russia baru melantjarkan suatu serangan jang jahat terhadap rakjat Hongaria didalam suatu pertjobaan untuk menghantjurkan perdjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri. Apakah Partai Komunis India akan memilih kemerdekaan atau perbudakan: menjetudjui Hongaria atau Russia? Hari kemudian komunisme tergantung dari djawaban atas pertanjaan ini.
Proses analisa sendiri dan pendjelasan pendirian harus membawa kaum komunis kepada pertanjaan pokok, jang saja kemukakan kepada mereka, atau seperti dikemukakan oleh kedjadian2 jang baru lalu. Pertanjaan jang paling pokok dari segala pertanjaan ini jalah: Apakah kaum komunis akan meneruskan untuk mendasarkan filsafat dan tindakan mereka atas kebohongan dan kekerasan? Apakah mereka akan meneruskan untuk menjebut kediktatoran demokrasi; “kemerosotan birokrasi” (untuk memakai perkataan Togliatti) atau , dengan lain perkataan, kapitalisme negara sosialisme; kolonialisme revolusi? Apakah mereka tidak akan membedakan jang chajal dan kenjataan?
Apakah mereka tidak akan mengedjar kebenaran? Dan jang paling penting dari itu, apakah mereka dapat melakukan semuanja itu dengan tiada mengutuk kekerasan? Kekerasan nampaknja menawarkan djalan tjepat kepada revolusi. Tetapi sekalipun telah dilakukan kekerasan setjara besar-besaran, apakah revolusi telah berhasil di Russia? Djawaban tidak bisa lain daripada tidak kalah kita tidak hanja mempunjai gambaran jang negatif mengenai revolusi, dan kalau kita tidak kembali menutup mata kita untuk melihat tjita2 jang sudah hantjur dan meneruskan untuk menjebut hitam putih, atau kalau kita tidak menjamakan pertumbuhan ekonomi semata-mata dengan komunisme atau sosialisme. Pertumbuhan ekonomi sekalipun pertumbuhan ekonomi jang pesat telah diketahui pernah terdjadi dibawah kapitalisme dan –fasicsme. Sosialisme dan komunisme memperdjuangkan suatu tjara hidup dan tidak hanja statistik produksi dan kekuatan militer. Ini tidak berarti bahwa sosialisme atau komunisme tidak memperdjuangkan pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak dengan mengorbankan nilai2 jang didjundjungnja tinggi.
Kebohongan dan kekerasan pada mulanja dimaksudkan untuk dipakai hanja terhadap “musuh”, kekuasaan Tsar, tetapi pemakaian kekerasan itu mendjadi kebiasaan. Kebohongan dan kekerasan telah dipergunakan dan sedang dipergunakan terhadap rakjat, partai dan terhadap satu sama lain.
Memang benar bahwa banjak orang lain disamping kaum komunis seperti kaum demokrat borjuis di Inggeris jang dipimpin oleh Eden dan kaum sosial demokrasi di Perantjis jang dipimpin oleh Mollet harus djuga beladjar bahwa kebohongan dan kekerasan merupakan keburukan dan mau tidak mau mesti menudju kepada keburukan. Tetapi apakah kaum komunis tidak menjatakan bahwa mereka dapat menawarkan sesuatu jang djauh lebih baik? Dengan segala rendah hati saja mengemukakan bahwa mereka tidak dapat menawarkan sesuatu jang lebih baik dengan melakukan kebohongan jang lebih besar serta kekerasan.
Saja sadar bahwa saja akan ditertawakan dengan perbuatan saja ini untuk mengemukakan kebenaran dan non-violence (tidak mempergunakan kekerasan) kepada kaum komunis. Tetapi saja pertjaja atas akal manusia dan saja beranggapan bahwa kaum komunis djuga adalah manusia2 jang berakal. Didalam abad sendjata2 nuclear ini, setiap orang jang berakal sehat akan mengerti, bahwa suatu kekerasn jang dilakukan setjara besar-besaran, seperti suatu peperangan dunia, harus dihindarkan dengan djalan apapun djuga. Tidak seorangpun sekarang jang tidak menolak kekerasan setjara besar-besaran.
Tetapi orang masih menutup sebelah mata terhadap kekerasan ketjil-ketjilan. Tidak sukar bagi akal manusia untuk mengerti, bahwa djika kekerasan setjara ketjil-ketjilan diperbolehkan, kekerasan setjara besar-besaran tidak dapat dihentikan untuk selama-lamanja. Jang pertama melahirkan jang kemudian. Bolehlah saja menambah lagi bahwa tidak hanja kaum komunis tetapi banjak orang lain disamping kaum komunis harus memperhatikan peladjaran ini, termasuk pemerintah kita jang senang mempergunakan kekerasan.
Tetapi kaum komunis, djika mereka benar2 jakin akan pernjataan mereka tentang perdamaian dan persaudaraan, harus memperhatikan peladjaran itu lebih daripada siapapun djuga.
Semua kekuasaan2 kaum komunis jang ada sekarang adalah sumber daripada kekerasan2 badani. Dan sedjak kekuasaan itu didirikan, maka mereka tidak pernah tunduk kepada suara rakjat. Sudah barang tentu bahwa pemilihan2 umum diadakan, akan tetapi dengan tidak ada partai2 oposisi dan hak2 kemerdekaan rakjat, pemilihan2 umum atas nama “demokrasi” seperti dilakukan oleh Hitler. Kaum komunis mengutuk jang terachir, tetapi membenarkan pemerintahan partai tunggal mereka atas nama “demokrasi” seperti dianut oleh mereka. Systeem partai jang berkembang di dunia Barat sudah pasti bukanlah suatu bentukan demokrasi jang sempurna, tetapi systeem partai tunggal adalah djauh lebih buruk. Rakjat India ingin mengetahui apakah kaum komunis untuk dituntun oleh suara rakjat atau akan mentjoba memerintah dengan kekerasan.
Kekerasan badani belum mentjakup tjerita seluruhnja. Masih ada hal jang disebut kekerasan negara “menurut hukum”. Mari saja berikan sebuah tjontoh. Ahli2 pertanian di Russia sering mengatakan bahwa seandainja kaum tani Russia diberikan kesempatan untuk mengatakan pendapatnja dengan bebas dengan dak usah takut akan akibat2nja, maka bagian jang terbesar daripada mereka akan meninggalkan pertanian kollektif.
Ini boleh dikatakan pemutar-balikan atau didalam tjara berpidato jang biasa, “hasutan fascis”, tetapi persoalan jalah: apakah komunisme dapat dibenarkan untuk memaksakan kollektivisasi terhadap kaum tani jang tidak menjukainja atas nama rentjana produksi atau sosialisme? Apakah jang terpenting: partai atau rakjat, teori atau manusia? Boleh djadi benar, bahwa orang bisa begitu bodoh untuk tidak mengerti apa jang baik untuknja. Tetapi apakah ada sesuatu orang jang mempunjai hak untuk memaksakan pendapatnja kepada rakjat? Saja sendiri masih menjangsikan apakah paksaan sekalipun jang dilakukan oleh bagian jang terbesar terhadap bagian jang terketjil dapat dikatakan demokrasi jang sempurna. Paling bagus itu dapat disebut demokrasi terbatas. Tetapi keadaan jang sebaliknja dengan tidak dapat disangsikan adalah kesewenang-wenangan. Apakah kaum komunis India bersedia mengutuk kesewenang-wenangan jang demikian?
Saja tidak ingin memperpandjang pembitjaraan jang sudah pandjang ini. Saja hanja ingin mengingatkan sahabat2 saja dikalangan kaum komunis sekali lagi bahwa manusia kesedjahteraan djasmani dan rohaninja serta pertumbuhannja adalah tudjuan daripada segala usaha dalam masjarakat. Langkah serta tindakan apapun djuga jang membelakangkan manusia dan mengagung-agungkan organisasi, partai, masjarakat, negara, bangsa, rentjana, produksi, ilmu atau apapun djuga jang belum disebut disini bukanlah revolusi atau kemadjuan melainkan adalah reaksi dan karena itu harus ditolak. Saja bertanja pada diri sendiri apakah sahabat2 saja itu dapat menjetudjui hal itu.
Pada achirnja, saja berharap supaja sahabat2 saja djangan merasa puas dengan hanja memberikan djawaban politik. Saja tjukup mengetahui tjara berpikir dan tjara mengeluarkan fikiran daripada kaum komunis untuk menulis suatu djawaban balasan jang menghantjurkan. Tetapi hal sematjam itu merupakan suatu usaha jang sia-sia. Karena itu saja meminta kepada sahabat2 saja untuk djangan memikirkan kalah menang terhadap saja, tetapi untuk memikirkan dengan dalam-dalam apa jang telah dikemukakan. Kadang2 saja kelihatannja kedjam, tetapi biarlah saja terangkan kepada setiap orang bahwa saja hanja didorong oleh perasaan2 jang paling mengandung persahabatan.
Bombay, 5 November 1956
